BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak terjadi
peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan pengetahuan baik yang bermanfaat
maupun yang tidak bermanfaat. Namun hal tersebut tidak kita sadari bagaimana
cara mengembangkan peristiwa-peristiwa yang bermanfaat bagi kehidupan kita.
Salah satu dari ilmu pengetahuan tersebut adalah ilmu fisiska, dimana ilmu
fisika tersebut sangat bermanfaat bagi kehidupan kita sehari-hari dalam
melakukan suatu aktivitas, contoh ilmu fisika yang mempunyai hubungan yang
sangat erat dengan usaha manusia untuk mempelajari gejala alam. Setelah gejala
alam diketahui, maka dipikirkan bagaimana cara pemanfaatannya di dunia nyata
atau kehidupan sehari-hari , kajian ilmu fisika sangat sering muncul dalam
terjadinya suatu peristiwa, misalnya sebuah mobil yang melakukan pengereman dan
lain-lain, memindahkan sebuah barang/benda ketempat lain. Peristiwa-peristiwa
ini tentunya menimbulkan banyak pertanyaan bagi kita jika kita kaitkan dengan
ilmu fisika.
Disini kita akan membahas bagaimana caranya kita
menerapkan pertanyaan-pertanyaan yang ada dipkiran kita dengan mempelajari
materi-materi fisika. Dalam makalah ini kami akan menjelaskan tentang perbedaan
besaran pokok dan besaran turunan beserta satuan dan dimensinya serta
memprediksi dimensi suatu besaran melakukan analisis, dan melakukan penjumlahan
dan perkalian vektor dan menerapakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam ilmu fisika dikenal adanya besaran dan satuan.
Besaran merupakan sesuatu yang dapat diukur dan memiliki nilai dan satuan
merupakan salah satu komponen basaran yang menjadi standar dari suatu besaran .
Ditinjau dari cara memperolehnya besaran digolongkan menjadi 2, yaitu besaran
pokok dan besaran turunan. Besaran pokok merupakan besaran yang satuannya
didefinisikan atau ditetapkan terlebih dahulu, yang berdiri sendiri dan tidak
tergantung pada besara lain. Ada 7 besaran pokok antara lain massa, panjang,
waktu, suhu, intensitas cahaya, kuat arus dan jumlah zat. Sedangkan besaran
turunan didapat dari hasil menurunkan besaran pokok. Jika dilihat dari nilai
dan arahnya, besaran dibedaka menjadi 2, yaitu besaran skalar dan besaran
vektor. Besaran skalar adalah besaran yang hanya memiliki nilai tanpa memiliki arah. Contoh dari
besaran skalar adalah massa, waktu, panjang dan masih banyak lagi. Sedangkan
besaran vektor adalah besaran yang memiliki nilai dan arah.
Untuk lebih
menambah pemahaman kita tentang besaran pokok, besaran turunan, satuan SI,
dimensi, analisis dimensi maupun besaran vektor dan besaran skalar, dalam makalah ini penulis akan
menjelaskan berbagai kajian-kajian tentang besaran pokok, besaran turunan,
satuan SI, dimensi, analisis dimensi, besaran vektor dan besaran skalar lebih
lanjut. Kajian-kajian yang dijelaskan diantaranya pengertian besaran pokok dan
besaran turunan, menjelaskan penerapan satuan besaran pokok dan besaran turunan dalam SI, cara menentukan dimensi
dan pengertian analisis dimensi, pengertian skalar dan vektor,
operasi vektor, resultan vektor dengan metode jajar genjang, resultan vektor
dengan metoda poligon, resultan vektor dengan metode analisis. Selain dari
semua itu, kami juga akan menjelaskan tentang perkalian titik (dot), perkalian
silang (cross) dan sifat-sifatnya, dan juga penerapan perkalian skalar dan
silang dalam fisika.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka ada beberapa
rumusan masalah yang dapat paparkan
sebagai berikut :
1.
Apa
yang dimaksud besaran pokok, besaran turunan dan contoh-contohnya?
2.
Bagaimana
cara menerapkan satuan besaran pokok dan besaran turunan dalam SI?
3.
Bagaimana
caranya menentukan dimensi suatu besaran pokok dan turunan dan apa yang
dimaksud dengan analisis dimensi dalam fisika?
4.
Apa
pengertian skalar dan vektor,
dan bagaimana cara mempresentasikan vektor ?
5.
Apa
saja jenis operasi vektor, resultan vektor dan metodenya ?
6.
Apa
saja jenis dari perkalian vektor ?
7.
Bagaimana
menerapkan konsep perkalian skalar
dan perkalian silang dalam pemecahan
masalah sehari-hari ?
1.3
Tujuan
Adapun tujuan
dari makalah diatas
sesuai dengan rumusan masalah di atas sebagai berikut:
Mampu
membandingakan besaran pokok, besaran turunan dan contoh-contohnya.
1.Kita bisa menerapkan satuan besaran pokok dan besaran
turunan dalam SI.
2. Mampu menentukan dimensi suatu besaran pokok dan turunan
dan kita juga bisa mengetahui pengertian dari analisis dimensi dalam fisika.
3. Mampu mendeskripsikan tentang pengertian skalar dan
vektor dan menjelaskan cara menyatakan (merepresentasikan) vektor
4. Mampu menjelaskan tentang operasi – operasi pada vektor,
resultan vektor dan metodenya
5. Mampu menjelaskan tentang jenis perkalian vektor
6. Mampu menerapkan konsep perkalian skalar dan perkalian silang dalam pemecahan masalah sehari-hari.
1.4
Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan
dari penulisan makalah ini adalah :
1.
Bagi Penulis
Dalam penulisan makalah ini manfaat yang kami dapat bagi
penulis yaitu memberikan banyak pengalaman dalam penyusunan makalah ini dan
juga bisa memberikan informasi tentang besaran pokok dan besaran turunan, dan
bisa menjelaskan tentang skalar dan vektor serta hal – hal yang
berkaitan dengan vektor.
2.
Bagi Pembaca
Manfaat
bagi pembaca yang membaca makalah ini adalah mendapat informasi tentang besaran pokok, besaran turunan
dan penjelasan tentang skalar dan
vektor serta hal – hal yang berkaitan dengan vektor.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Besaran Pokok dan Besaran Turunan
Besaran fisis yaitu segala sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka. Besaran fisis digunakan untuk menyatakan hukum-hukum fisika, misalnya: panjang, massa, waktu, gaya, kecepatan, temperatur, intensitas cahaya, dan banyak lagi yang lain. Ada banyak besaran fisis, kadang-kadang saling bergantung satu dengan lainnya, sehingga pengaturannya menjadi sulit, misalnya saja laju (speed) adalah perbandingan antara panjang dan waktu. Yang harus kita lakukan adalah memilih sejumlah kecil besaran fisis sebagai besaran pokok. Besaran-besaran fisis lainnya dapat diturunkan dari besaran pokok.
Besaran fisis
dikelompokkan menjadi dua, yaitu besaran pokok dan besaran turunan. Besaran
pokok adalah besaran yang satuannya telah didefinisikan terlebih dahulu dan
tidak dapat dijabarkan dari besaran yang lain. Ada tujuh besaran pokok dalam
fisika, seperti ditunjukkan pada Tabel 1.1.
Besaran
pokok
|
Satuan
|
Simbol
satuan
|
panjang
|
Meter
|
m
|
massa
|
Kilogram
|
kg
|
waktu
|
Sekon
|
s
|
kuat arus listrik
|
Ampere
|
A
|
suhu
|
Kelvin
|
K
|
jumlah zat
|
Mol
|
mol
|
intesitas cahaya
|
Candela
|
cd
|
Tabel 1.1 Besaran pokok dan satuannya
Dalam
menurunkan satuan besaran turunan Anda harus mengetahui definisi fisis dari besaran tersebut. Besaran turunan
adalah besaran yang diturunkan dari besaran-besaran pokok. Berikut contoh beberapa besaran turunan dalam fisika dapat
ditunjukkan pada Tabel 1.2.
Besaran turunan
|
Rumus
|
Satuan
|
luas
|
panjang
|
m2
|
volume
|
panjang
|
m3
|
massa
jenis
|
kg
m-3
|
|
kecepatan
|
m
s-1
|
|
percepatan
|
m
s-2
|
|
gaya
|
massa
|
kg m s-2 = newton (N)
|
usaha
dan energi
|
gaya
|
kg
m2 s-2 = joule (J)
|
tekanan
|
kg m-1s-2 = pascal (Pa)
|
|
daya
|
kg
m2 s-3 = watt
(W)
|
|
impuls
dan momentum
|
gaya
|
kg
m s-1 = N s
|
Tabel 1.2 Besaran
turunan, rumus dan
satuannya
2.2
Sistem Satuan Internasional
Sebelum adanya standar internasional, hampir setiap
negara menetapkan sistem satuannya sendiri. Sebagai contoh, satuan panjang di
negara Indonesia adalah hasta dan jengkal, di Inggris dikenal inci dan feet
(kaki), dan di Perancis digunakan meter. Penggunaan bermacam-macam satuan untuk
suatu besaran ini menimbulkan kesukaran. Kesukaran pertama adalah diperlukannya
bermacam-macam alat ukur yang sesuai dengan satuan yang digunakan. Kesukaran
kedua adalah kerumitan konversi dari satuan ke satuan lainnya, misalnya dari
jengkal ke kaki. Ini disebabkan tidak adanya keteraturan yang mengatur konversi
satuan-satuan tersebut.
Konferensi Umum mengenai Berat dan Ukuran ke-14 (1971),
berdasarkan hasil-hasil pertemuan sebelumnya dan hasil-hasil panitia
internasional, menetapkan tujuh besaran sebagai dasar. Ketujuh besaran ini
merupakan dasar bagi Sistem Satuan Internasional, biasanya disingkat SI, dari
bahasa Prancis “Le Systeme International d’Unites.”
Banyak contoh-contoh satuan turunan SI, seperti
kecepatan, gaya, hambatan listrik, dan sebagainya. Sebagai contoh, satuan SI
untuk gaya disebut newton (disingkat N), yang dalam satuan dasar SI
didefinisikan sebagai
1
N = 1 m
∙ kg/s2
Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam pasal 5.
Akibat adanya kesukaran yang ditimbulkan oleh penggunaan
sistem satuan yang berbeda, maka muncul gagasan untuk menggunakan hanya satu jenis
satuan saja untuk besaran-besaran dalam ilmu pengetahuan alam dan teknologi.
Suatu perjanjian internasional telah menetapkan satuan internasional
(International System of Units) disingkat satuan SI. Satuan SI ini diambil dari
sistem metrik yang telah digunakan di Prancis setelah revolusi tahun 1789.
Karena ada tujuh besaran pokok, maka juga ada tujuh satuan pokok dalam SI,
yaitu: meter (m), kilogram (kg), sekon (s), ampere (A), kelvin (K), candela
(cd), dan mol (mol).
2.3 Dimensi suatu
Besaran Pokok, Besaran Turunan dan Analisis Dimensi
Dimensi suatu besaran menujukkan cara
besaran itu tersusun dari besaran-besaran pokok. Dimensi besaran pokok
dinyatakan dengan lambang huruf tertentu (ditulis huruf besar), dan atau diberi
kurung persegi. Sebagai contoh, dimensi dari besaran massa ditulis M atau [M]. Dimensi suatu besaran turunan
ditentukan oleh rumus besaran turunan tersebut jika dinyatakan dalam
besaran-besaran pokok. Sebagai contoh, dimensi dari besaran percepatan yang didefinisikan
sebagai hasil bagi dari kecepatan
dan waktu adalah sebagai berikut :
Adapun cara-cara menentukan dimensi besaran turunan dari
dimensi besaran pokok yaitu :
Besaran Turunan
|
Definisi
|
Simbol
|
Dimensi
|
Volume (V)
|
[L][L][L]
|
[L]3
|
|
Massa
jenis (ρ)
|
Massa
per volume (
|
[M][L]-3
|
|
Kecepatan
(v)
|
Perpindahan
per waktu
|
[L][T]-1
|
|
Percepatan
(a)
|
Kecepatan
per waktu
|
[L][T]-2
|
Tabel 1.4. Menentukan dimensi besaran turunan dari dimensi besaran
pokok
Analisis dimensi dalam fisika adalah alat konseptual yang
sering diterapkan dalam fisika, dan teknik
untuk memahami keadaan fisis yang melibatkan besaran fisis
yang berbeda-beda. Adapun tiga
manfaat dimensi dalam fisika, sebagai berikut.
1. Dapat
digunakan untuk membuktikan dua besaran fisis setara atau tidak. Dua besaran
fisis yang hanya setara jika keduanya memiliki dimensi yang sama dan keduanya
termasuk besaran skalar atau keduanya termasuk besaran vektor.
2. Dapat digunakan untuk menetukan persamaan yang pasti atau
mungkin benar.
3. Dapat digunakan untuk menurunkan persamaan suatu besaran
fisis jika kesebandingan besaran fisis tersebut dengan besaran fisis lainnya
diketahui.
2.4
Pengertian
Skalar , Vektor
dan Representasi Vektor
Selain besaran pokok dan turunan, besaran fisika masih
dapat dibagi atas dua kelompok lain yaitu besaran skalar dan besaran
vektor. Besaran‐besaran
seperti massa, jarak, waktu dan volume, termasuk besaran
skalar, yakni besaran yang hanya memiliki besar atau nilai saja tetapi tidak
memiliki arah. Sedangkan besaran seperti perpindahan, kecepatan,
percepatan dan gaya termasuk besaran vektor, yaitu besaran
yang memiliki besar (atau nilai) dan juga memiliki arah. Dalam besaran vektor kita hanya mementingkan atau memfokuskan
hanya pada nilai suatu besarannya tetapi kita juga akan memperhatikan arah dari
besaran vektor
tersebut. Beberapa contoh besaran vektor
misalnya perpindahan, gaya dan lain-lain. Jika kita menyatakan perpindahan
selalu disertai arah, cara
menyatakan atau menggambarkan vektor ada 3 cara, yaitu dengan diagram vektor, notasi huruf dan notasi analitis.
1.
Cara pertama yaitu dengan diagram
vektor, vektor dapat digambarkan dengan anak panah.
![]() |
1. Besar dan
arah vektor
dapat kita lihat atau dapat digambarkan melalui diagram vektor. Misalkan diagram vektor di atas, kita dapat melihat besar
dan arah vektor
A dan B, panjang dari anak panah dapat kita lihat sebagai besar atau nilai
vektornya misalnya panjang anak panahnya 1 meter, sedangkan arah dari vektor tersebut dapat kita lihat dari arah kepala
anak panah pada diagram vektor.
2.
Cara yang kedua adalah dengan notasi huruf. Ada beberapa aturan dalam penulisan
vektor menggunakan
huruf. Vektor dapat ditulis dengan huruf kapital
yang dicetak tebal, huruf kecil yang dicetak tebal, dan dalam penulisan
sehari-hari biasanya ditulis dengan menambahkan anak panah di atas huruf yang menyatakan vektor. Sebagai contohnya vektor AB, dapat ditulis AB, ab, ataupun
dan
. Vector AB
memiliki arti atau dapat diartikan bahwa arah vektornya dari vektor A
ke vektor
B.
|
![]() |
|||
![]() |
|||
Lebih
mudah jika menyatakan vektor menggunakan vektor satuan dalam arah sepanjang sumbu – sumbu koordinat yang dipilih.
Dalam koordinat siku – siku biasanya digunakan lambang khusus i, j dan k untuk menyatakan vektor satuan dalam
arah sumbu x, y dan z positif berturut
– turut.
1.
Dua vektor dikatakan sama jika arah dan
besarnya sama
![]() |
Jika vektor dinyatakan seperti gambar di atas, maka dapat dikatakan A = B
2.
Dua vektor dikatakan tidak sama jika :
a.
Dua vektor besarnya
sama tetapi arahnya berbeda
Dua vektor besarnya
sama tetapi arahnya berbeda![]() |
|||
b. Dua vektor yang besarnya tidak sama tetapi
memiliki arah yang sama

c. Dua vektor yang besar dan arahya berbeda


2.5
Operasi Vektor, Resultan Vektor dan Metodenya
Dalam
kehidupan sehari-hari, besaran – besaran baik besaran skalar maupun vektor juga
sering dilibatkan dalam operasi hitung baik penjumlahan, pengurangan dan
perkalian. Untuk besaran-besaran skalar dalam operasi hitung mengikuti kaidah
berhitung biasa. Sedangkan untuk besaran vektor dalam operasi hitung mengikuti
kaidah-kaidah berhitung yang berbeda dengan kaidah berhitung besaran scalar sehingga
memerlukan pembahasan tersendiri yang biasanya terangkum dalam kajian analisis
vektor.
Dalam
vektor, ada beberapa operasi-operasi atau cara-cara yang dapat digunakan dalam
menentukan nilai dari sebuah vektor, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.
Operasi Penjumlahan dan
pengurangan
Operasi Penjumlahan dan
pengurangan![]() |
|||
Diberikan 2 buah
vektor seperti pada gambar. Tentukan hasil A
+ B = … ?
Dalam
penjumlahan vektor
tanda “+” dalam penjumlahan vektor memilki arti dilanjutkan, jadi jika A + B berarti vektor A dilanjutkan oleh
vektor B
seperti
pada gambar dibawah kita dapat lihat bahwa vector A diteruskan oleh vector B
sehingga hasilnya adalah garis panjang yang berwarna merah.![]() |
Untuk
pengurangan vektor tanda “-“
berarti berlawanan arah misalnya
vektor A-B, dapat
kita kurangi atau hitung seperti pada gambar dibawah ini.![]() |
Dalam
operasi vektor ini berlaku beberapa hukum, antara lain :
a. Hukum
Komutatif
![]() |
|
|
b. Hukum
Asosiatif
Kedua hukum ini
menyatakan bahwa bagaimanapun urutan atau pengelompokan vektor dalam
penjumlahan, hasilnya akan sama.
![]() |
( A + B ) + C = A + ( B
+ C ) (1.2)
2. Resultan vektor dan metode
mencari resultan
Resultan
merupakan hasil penjumlahan dari beberapa vektor. Dalam menentukan resultan
dari suatu vector dapat menggunakan beberapa cara atau metode antara lain
metode jajar genjang, metode segi banyak atau poligon dan metode analitik.
a.
Metode Jajar genjang
Dalam metode jajar
genjang resultan vektornya dinyatakan oleh diagonal jajar genjang yang dibentuk
oleh dua vector tersebut. Misalkan diberikan dua vector A dan B seperti pada
gambar di bawah,
![]() |
Dalam menentukan resultan vector AB
diatas dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
1.
Titik pangkal vektor B diletakkan berhimpit dengan vektor A
2. Gambar jajar
genjang dengan P dan Q sebagai sisinya, lalu tarik garis diagonalnya
Besar R dapat ditentukan dengan cara :
(1.5)
Dimana diketahui :
AB = P
BC = AD = AC = R
Sehingga persamaan (1.5) dapat ditulis menjadi
(1.6)
![]() |
(1.7)
Catatan
:
1. Jika vektor P dan Q
searah, maka α = 00 dan R =
(1.8)
2. Jika vektor P dan Q
berlawanan arah, maka α = 1800 dan
3. Jika vektor P dan Q
saling tegak lurus, maka α = 900 dan R =
(1.10)
b.
Metode Segi Banyak (Poligon)
Menghitung nilai resultan juga dapat dilakukan dengan metode
polygon (segi banyak). Metode poligon adalah
cara meresultankan vektor dengan cara menggambar. Salah satu vektor sebagai
acuan dan vektor lain disambungkan dengan pangkal tepat pada ujung vektor
sebelumnya. Resultan vektornya dapat dibentuk dengan menggambar anak panah dari
pangkal awal hingga ujung akhir. (Sri Handayani : 42)
Pada suatu keadaan tertentu metode polygon dapat
mempermudah penyelesaian perhitungan resultan vektor.
Gambar
:
Jika akan mencari
resultannya maka digambar terlebih dahulu
![]() |
c.
Metode Analitik
Jika
pada satu titik bekerja lebih dari 1 vektor, maka untuk mencari resultannya
dapat digunakan metode analitik (uraian).
Dalam metode ini, vektor akan diproyeksikan ke dalam
komponen-komponennya dalam suatu system kordinat tertentu. Vektor-vektor
tersebut dapat doproyeksikan pada 2 arah (sumbu x dan sumbu y). Vektor-vektor
yang sejajar dapat dihitung resultannya dengan cara dijumlahkan atau
dikurangkan. 2 resultan pada arah sejajar pasti saling tegak lurus, sehingga
resultan akhirnya dapat ditentukan dengan dalil
phytagoras

|
|
![]() |
Resultan
proyeksi-proyeksi gaya yang searah memenuhi persamaan berikut :
|
|
|
|
(1.12)
dimana :
F1y = F1 sin θ (1.15)
Resultan gaya – gaya
tersebut dapat memenuhi persamaan berikut :
![]() |
(1.17)
![]() |
(1.18)
Dengan
: R: besar resultan gaya
θ
: sudut FR terhadap sumbu x
2.6
Perkalian Vektor
Di
atas telah dijelaskan mengenai operasi penjumlahan dan pengurangan vektor,
sekarang akan dijabarkan mengenai operasi perkalian vektor. Operasi perkalian
vektor ada 2 jenis, yaitu perkalian skalar dengan vektor dan perkalian vektor
dengan vektor. Perkalian vektor dengan vektor terdiri dari perkalian titik (dot
product) dan perkalian silang (cross product).
1.
Perkalian Skalar dengan Vektor
Perkalian
ini berarti mengalikan bilangan biasa (skalar) dengan vektor. Hasil perkalian
ini adalah vektor baru. Notasi penulisan perkalian ini adalah :
(1.19)
Vektor
B memiliki besar k kali vektor A.
jika nilai k positif (+) maka vektor B akan memiliki arah yang sama dengan
vektor A. namun jika k bernilai negative maka vektor B berlawanan arah dengan
vektor A.
2.
Perkalain Vektor dengan Vektor
ada
2 jenis perkalain ini, yaitu
a.
Perkalain tititk/dot (•)
Perkalian titik
2 buah vektor, A dan B dapat dituliskan A • B . 2 buah vektor yang dioperasikan dengan perkalian titik
menghasilkan bilangan biasa (skalar)
![]() |
Gambar
1.17
|
|
(1.20)
Ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam perkalian titik, antara lain :
·
Dalam perkalian titik berlaku hukum
komutatif
A•B
= B•A (1.21)
(perklaian dot tidak memperhatikan urutan)
·
Perkalian titik juga memenuhi hukum
distributif
A•(B+C)
= A•B + A•C (1.22)
·
Jika vektor A dan B saling tegak lurus
(θ = 900) maka
A•B = 0 (1.23)
·
Jika kedua vektor memiliki arah yang
sama (searah) θ = 0, maka
A•B
= AB (1.24)
Jika A=B akan diperoleh
A•A
= A2 atau B•B = B2 (1.25)
·
Jika θ = 1800 maka vektor A
dan B akan berlawanan arah
A•B
= −AB (1.26)
b.
Perkalian silang/cross (×)
Dengan notasi
A×B (dibaca A cross B), perkalian silang 2 vektor ini menghasilkan sebuah
vektor baru. Vektor hasil perkalian ini dapat digambarkan sebagai sebuah vektor
yang tegak lurus terhadap masing-masing vektor tersebut.
Hal
– hal penting yang harus diingat dalam perkalian silang, antara lain :
·
Perkalain silang bersifat anti komutatif
A
× B = −B × A (1.27)
·
Sudut yang dibentuk vektor A dan B 900
(tegak lurus) maka
│A × B│= AB (1.28)
·
Jika vektor A dan B segaris dengan θ = 00
ataupun θ = 1800 (searah ataupun berlawanan) maka
│A × B│= 0 (1.29)
2.7
Penerapan Perkalian Vektor
Setelah
mengetahui teori tentang perkalian vektor, sekarang kita akan menerapkan
operasi perkalian tersebut dalam perumusan – perumusan fisika.
1.
Penerapan Perkalian Titik (Dot)
Beberapa
contoh penerapan perkalian titik dalam fisika antara lain dalam mencari
besarnya usaha. Seperti yang telah diketahui bersama rumus untuk menentukan
besarnya usaha yang dilakukan saat sebuah benda dikenai gaya dan benda tersebut
mengalami perubahan posisi adalah W = F • s = F (cos θ) • s. Dimana W adalah
usaha, F adalah gaya yang bekerja pada benda dan s adalah jarak yang ditempuh
benda setelah/selama dikenai gaya.
Gambar
1.19
Hasil dari perkalian
ini (usaha) merupakan bilangan skalar (bilangan biasa) tanpa arah. Contoh lain
dari penerapan perkalian titik ini adalah saat menghitung fluks listrik.
2. Penerapan Perkalian
Silang (Cross)
Masih ingatkah dengan
momen gaya ? momen gaya dirumuskan τ = F × r. dimana τ adalah momen gaya, F
adalah vektor gaya dan r adalah vektor posisi. Momen gaya ini merupakan besaran
vektor karena setelah dioperasikan, momen gaya selain memiliki nilai juga
memiliki arah.
![]() |
Gambar
1.20
Titik
O merupakan poros, jika batang tersebut ditarik dengan gaya F, maka batang akan
bergerak searah jarum jam. Sehingga momen gaya termasuk salah satu contoh
penerapan perkalian silang (cross). Adapun contoh lain yaitu Gaya Lorentz.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Simpulan
Berdasarkan pembahasan
di atas, maka simpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut :
1.
Besaran
pokok merupakan besaran yang satuannya telah
didefinisikan terlebih dahulu dan tidak dapat dijabarkan dari besaran yang lain. Sedangkan besaran turunan adalah besaran
yang diturunkan dari besaran-besaran pokok.
2. Untuk
penyamaan persepsi pengukuran di seluruh dunia, diciptakan suatu standar satuan
yang disebut dengan satuan Sistem Internasional yang dapat dikonversi ke dalam
satuan yang berlaku di negara masing-masing. Misalnya satuan panjang secara
internasional adalah meter, dapat dikonversi ke dalam satuan inchi, kaki, mil,
dan lain-lain.
3. Dimensi
suatu besaran menunjukkan cara besaran itu tersusun dari besaran-besaran
pokoknya.
4. Kegunaan
analisis dimensi yaitu; (a) mengungkapkan kesetaraan beberapa besaran yang
secara sepintas tampak berbeda, misalnya energi kinetik, energi potensial, dan
usaha; (b) menentukan satuan dari besaran turunan dengan cara analisis dimensional.
5. Analisis
dimensional adalah suatu cara untuk menentukan satuan dari suatu besaran
turunan, dengan cara memperhatikan dimensi besaran tersebut.
6. Besaran skalar artinya besaran yang tidak memiliki arah.
7. Besaran
vektor merupakan besaran yang selain memiliki nilai juga memiliki arah.
2. Ada 3 cara untuk merepresentasikan vektor, yaitu
a. Diagram vektor
b. Notasi huruf
c. Notasi analitis
3.
Ada beberapa metode untuk mencari nilai resultan vektor, antara lain :
a.
Metode jajar genjang
b.
Metode segi banyak (polygon)
|
|
c. Metode analitik
(uraian)
4.
Perkalian vektor terdiri dari 2 jenis yaitu :
a.
Perkalian Titik (dot) yang menghasilkan bilangan skalar (bilangan biasa)
b.
Perkalian Silang (cross) yang menghasilkan besaran vektor baru.
3.2
Saran
Saran yang ingin kami sampaikan yaitu diharapkan kepada
peserta didik agar dapat lebih mengerti
dan memahami
tentang besaran pokok,
besaran turunan, satuan SI, dimensi, analisis dimensi, skalar dan
vektor, agar nantinya mampu menjabarkan apa itu besaran pokok, besaran turunan, skalar, vektor
dan semua hal – hal yang berkaitan dengan besaran-besaran yang ada di fisika.
DAFTAR
PUSTAKA
M.ROFI'I BINTANG RINJANI MAJUWET
,Resnick.1999.Fisika Jilid I.Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga
,Resnick.1999.Fisika Jilid I.Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga
Giancoli, D.C.1998. Fisika Jilid I.
Edisi ketiga. Jakarta: Erlangga
Modul Fisika Dasar 1
Sri Handayani, Ari Damari. 2009. Fisika Untuk SMA
dan MA Kelas X. Jakarta: CV Adi Perkasa
Sumarsono, Joko. 2009. Fisika Untuk SMA/MA Kelas X.
Jakarta: CV Teguh Karya
BIODATA MAHASISWA
NAMA :M.ROFI'I
ALMT :MAJUWET
TTL :MAJUWET 02/05/1995
DESA :BINTANG RINJANI
KEC :SURALAGA NTB
AGMA :ISLAM
BIODATA MAHASISWA
NAMA :M.ROFI'I
ALMT :MAJUWET
TTL :MAJUWET 02/05/1995
DESA :BINTANG RINJANI
KEC :SURALAGA NTB
AGMA :ISLAM


















No comments:
Post a Comment