KOMPONEN PENDIDIKA
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Bidang pendidikan termasuk rumpun ilmu perilaku,
khususnya suatu rumpun ilmu yang mengkaji aktivitas manusia.
Komponen adalah bagian dari suatu system yang
memiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya peran dalam proses untuk
mencapai tujuan sistem. Komponen pendidikan berarti bagian-bagian dari sistem
pendidikan yang menentukan berhasil dan tidaknya atau ada dan tidaknya proses
pendidikan. Bahkan dapat dikatakan bahwa untuk berlangsungnya proses kerja
pendidikan diperlukan keberadaan komponen-komponen tersebut.
Ada Sembilan Komponen yang memungkinkan terjadinya
proses atau terlaksananya proses mendidik yaitu tujuan pendidikan, peserta
didik, pendidikan, orang dewasa, orang tua, guru atau pendidik di sekolah,
pemimpin masyarakat dan keagamaan, interaksi edukatif pendidik dan anak didik,
dan isi pendidikan. Kesembilan komponen tersebut akan dibahas dalam makalah
ini.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Pengertian komponen pendidikan ?
2. Komponen pendidikan ?
3. Row input ?
4. Intumen input ?
5. inviromental input ?
6. Hubungan timbal balik antar komponen pendidikan ?
1. Pengertian komponen pendidikan ?
2. Komponen pendidikan ?
3. Row input ?
4. Intumen input ?
5. inviromental input ?
6. Hubungan timbal balik antar komponen pendidikan ?
C. BATASAN MASALAH
Dalam masalah yang kami tulis
ini hanya membahas tentang Komponen Pendidikan dari pengertiannya sampai
hubungan timbal balik antar komponen pendidikan.
D. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan makalah
ini kami tulis karena merupakan tugas dari Dosen mata kuliah Pengantar
Pendidikan dan juga memperdalam pengetahuan kami tentang Komponen Pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KOMPONEN PENDIDIKAN
Komponen adalah bagian dari
suatu sistem yang memiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk mencapai
tujuan sistem. Komponen pendidikan berarti bagian-bagian dari sistem proses pendidikan,
yang menentukan berhasil dan tidaknya atau ada dan tidaknya proses pendidikan.
Bahkan dapat diakatan bahwa untuk berlangsungnya proses kerja pendidikan
diperlukan keberadaan komponen-komponentersebut.
B. KOMPONEN PENDIDIKAN
B. KOMPONEN PENDIDIKAN
Komponen-komponen yang memungkinkan
terjadinya proses pendidikan atau terlaksananya proses mendidik,
komponen-komponen itu yakni:
1). Tujuan Pendidikan,
2) Peserta Didik,
3) Pendidikan,
4).Orang Dewasa
5).Orang Tua
6).Guru/Pendidik di Sekolah
7).Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
8).Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik
9).Isi Pendidikan
1). Tujuan Pendidikan,
2) Peserta Didik,
3) Pendidikan,
4).Orang Dewasa
5).Orang Tua
6).Guru/Pendidik di Sekolah
7).Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
8).Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik
9).Isi Pendidikan
1).Tujuan Pendidikan
Tingkah laku
manusia, secara sadar maupun tidak sadar tentu berarah pada tujuan. Demikian
juga halnya tingkah laku manusia yang bersifat dan bernilai pendidikan.
Keharusan terdapatnya tujuan pada tindakan pendidikan didasari oleh sifat ilmu
pendidikan yang normatif dan praktis. Sebagai ilmu pengetahuan normatif , ilmu
pendidikan merumuskan kaidah-kaidah; norma-norma dan atau ukuran tingkahlaku
perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia.
Sebagai ilmu pengetahuan praktis,
tugas pendidikan dan atau pendidik maupun guru ialah menanamkam sistem-sistem
norma tingkah-laku perbuatan yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang
dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat
(Syaifulah, 1981).
Langeveld
mengemukakan bahwa pandangan hidup manusia menjiwai tingkah laku perbuatan
mendidik. Tujuan umum atau tujuan mutakhir pendidikan tergantung pada
nilai-nilai atau pandangan hidup tertentu. Pandangan hidup yang menjiwai
tingkahlaku manusia akan menjiwai tingkahlaku pendidikan dan sekaligus akan
menentukan tujuan pendidikan manusia.
Langeveld
mengemukakan jenis-jenis tujuan pendidikan terdiri dari tujuan umum, tujuan tak
lengkap, tujuan sementara, tujuan kebetulan dan tujuan perantara. Pembagian
jenis-jenis tujuan tersebut merupakan tinjauan dari luas dan sempit tujuan yang
ingin dicapai.
Urutan hirarkhis tujuan pendidikan dapat
dilihat dalam kurikulum pendidikan yang terjabar mulai dari :
1) Cita-cita nasional/tujuan nasional (Pembukaan UUD 1945),
2) Tujuan Pembangunan Nasional (dalam Sistem Pendidikan Nasional),
3) Tujuan Institusional (pada tiap tingkat pendidikan/sekolah),
4) Tujuan kurikuler (Pada tiap-tiap bidang studi/mata pelajran atau kuliah), dan
5) Tujuan instruksional yang dibagi menjadi dua yaitu tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.
1) Cita-cita nasional/tujuan nasional (Pembukaan UUD 1945),
2) Tujuan Pembangunan Nasional (dalam Sistem Pendidikan Nasional),
3) Tujuan Institusional (pada tiap tingkat pendidikan/sekolah),
4) Tujuan kurikuler (Pada tiap-tiap bidang studi/mata pelajran atau kuliah), dan
5) Tujuan instruksional yang dibagi menjadi dua yaitu tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.
Denga demikian tampak keterkaitan antara
tujuan instruksional yang dicapai guru dalam pembelajaran dikelas, untuk
mencapai tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari falsafah hidup yang
berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.
2).Peserta Didik
2).Peserta Didik
Perkembangan
konsep pendidikan yang tidak hanya terbatas pada usia sekolah saja memberikan
konsekuensi pada pengertian peserta didik. Kalau dulu orang mengasumsikan
peserta didik terdiri dari anak-anak pada usia sekolah, maka sekarang peserta
didik dimungkinkan termasuk juga didalamnya orang dewasa. Mendasarkan pada
pemikiran tersebut di atas maka pembahasan peserta didik seharusnya bermuara
pada dua hal tersebut di atas.
Persoalan yang berhubungan dengan
peserta didik terkait dengan sifat atau sikap anak didik dikemukakan oleh
Langeveld sebagai berikut :
Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, oleh sebab itu anak memiliki sifat kodrat kekanak-kanakan yang berbeda dengan sifat hakikat kedewasaan. Anak memiliki sikap menggantungkan diri, membutuhkan pertolongan dan bimbingan baik jasmaniah maupun rohaniah. Sifat hakikat manusia dalam pendidikan ia mengemukakan anak didik harus diakui sebagai makhluk individu dualitas, sosialitas dan moralitas. Manusia sebagai mahluk yang harus dididik dan mendidik.
Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, oleh sebab itu anak memiliki sifat kodrat kekanak-kanakan yang berbeda dengan sifat hakikat kedewasaan. Anak memiliki sikap menggantungkan diri, membutuhkan pertolongan dan bimbingan baik jasmaniah maupun rohaniah. Sifat hakikat manusia dalam pendidikan ia mengemukakan anak didik harus diakui sebagai makhluk individu dualitas, sosialitas dan moralitas. Manusia sebagai mahluk yang harus dididik dan mendidik.
Sehubungan
dengan persoalan anak didik disekolah Amstrong 1981 mengemukakan beberapa
persoalan anak didik yang harus dipertimbangkan dalam pendidikan. Persoalan
tersebut mencakup apakah latar belakang budaya masyarakat peserta didik ?
bagaimanakah tingkat kemampuan anak didik ? hambatan-hambatan apakah yang
dirasakan oleh anak didik disekolah ? dan bagaimanakah penguasaan bahasa anak
di sekolah ? Berdasarkan persoalan tersebut perlu diciptakan pendidikan yang
memperhatikan perbedaan individual, perhatian khusus pada anak yang memiliki
kelainan, dan penanaman sikap dan tangggung jawab pada anak didik.
3).Pendidik
3).Pendidik
Salah satu komponen penting dalam
pendidikan adalah pendidik. Terdapat beberapa jenis pendidik dalam konsep
pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak terbatas pada pendidikan
sekolah saja. Ditinjau dari lembaga
pendidikan muncullah beberapa individu yang tergolong pada pendidik.
Guru
sebagai pendidik dalam lembaga sekolah, orang tua sebagai pendidik dalam
lingkungan keluarga, dan pimpinan masyarakat baik formal maupun informal
sebagai pendidik dilingkungan masyarakat.
Sehubungan
dengan hal tersebut diatas Syaifullah (1982) mendasarkan pada konsep pendidikan
sebagai gejala kebudayaan, yang termasuk kategori pendidik adalah
1) orang dewasa,
2) orang tua,
3) guru/pendidik, dan
4) pemimpin kemasyarakatan, dan pemimpin keagamaan.
4).Orang Dewasa
1) orang dewasa,
2) orang tua,
3) guru/pendidik, dan
4) pemimpin kemasyarakatan, dan pemimpin keagamaan.
4).Orang Dewasa
Orang dewasa sebagai pendidik
dilandasi oleh sifat umum kepribadian orang dewasa, sebagaimana dikemukakan
oleh Syaifullah adalah sebagai berikut
a.manusia yang memiliki
pandangan hidup prinsip hidup yang pasti dan tetap
b. manusia yang telah memiliki
tujuan hidup atau cita-cita hidup tertentu, termasuk cita-cita untuk mendidik
c. manusia yang cakap mengambil
keputusan batin sendiri atau perbuatannya sendiri dan yang akan
dipertanggungjawabkan sendiri,
d. manusia yang telah cakap
menjadi anggota masyarakat secara konstruktif dan aktif penuh inisiatif,
e. manusia
yang telah mencapai umur kronologis paling rendah 18 th,
f. manusia berbudi
luhur dan berbadan sehat,
g. manusia yang
berani dan cakap hidup berkeluarga, dan
h. manusia yang
berkepribadian yang utuh dan bulat.
5).Orang Tua
Kedudukan
orang tua sebagai pendidik, merupakan pendidik yang kodrati dalam lingkungan keluarga.
Artinya
orang tua sebagai pedidik utama dan yang pertama dan berlandaskan pada hubungan
cinta-kasih bagi keluarga atau anak yang lahir di lingkungan keluarga mereka.
Kedudukan orang tua sebagai pendidik sudah berlangsung lama, bahkan sebelum ada
orang yang memikirkan tentang pendidikan.
Secara umum dapat dikatan bahwa semua
orang tua adalah pendidik, namun tidak semua orang tua mampu melaksanakan
pendidikan dengan baik. Sebagaimana telah dikemukakan dalam bahasan di atas,
bahwa kemampuan untuk menjadi orang tua sama sekali tidak sejajar dengan
kemampuan untuk mendidik.
6).Guru/Pendidik di Sekolah
Guru sebagai pendidik disekolah yang
secara lagsung maupun tidak langsung mendapat tugas dari orang tua atau
masyarakat untuk melaksanakan pendidikan. Karena itu kedudukan guru sebagai
pendidik dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan baik persyaratan pribadi
maupun persyaratan jabatan.
Persyaratan pribadi didasarkan pada
ketentuan yang terkait dengan nilai dari tingkah laku yang dianut, kemampuan
intelektual, sikap dan emosional. Persyaratan jabatan (profesi) terkait dengan
pengetahuan yang dimiliki baik yang berhubungan dengan pesan yang ingin
disampaikan maupun cara penyampainannya, dan memiliki filsafat pendidikan yang
dapat di pertanggungjawabkan.
7).Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
7).Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
Selain orang dewasa, orang tua dan guru,
pemimpin masyarakat dan pemimpin keagamaan merupakan pendidik juga. Peran
pemimpin masyarakat menjadi pendidik didasarkan pada aktifitas pemimpin dalam
mengadakan pembinaan atau bimbingan kepada anggota yang dipimpin. Pemimpin
keagaam sebagai pendidik, tampak pada aktifitas pembinaan atau pengembangan
sifat kerohanian manusia, yang didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.
8).Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik
8).Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik
Proses pendidikan bisa terjadi apabila
terdapat interaksi antara komponen-komponen pendidikan. Terutama interaksi
antara pendidik dan anak didik. Interaksi pendidik dengan anak didik dalam
rangka mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Tindakan yang dilakukan
pendidik dalam interaksi tersebut mungkin berupa tindakan berdasarkan
kewibawaan, tindakan berupa alat pendidikan, dan metode pendidikan.
Pendidikan
berdasarkan kewibawaan dapat dicontohkan dalam peristiwa pengajaran dimana
seorang guru sedang memberikan pengajaran, diantara beberapa murid membuat
suatu yang menyebabkan terganggunya jalan pengajaran. Kemudian guru tersebut
memberikan peringatan, maka belau ini telah melaksanakan tindakan berdasarkan
kewibawaan. Dengan demikian tindakan berdasarkan kewibawaan yaitu bersumber
dari orang dewasa sebagai pendidik, untuk mencapai tujuan pendidikan (tujuan
kesusilaan, sosial dan lain-lain) (Syaifullah, 1982).
Alat
pendidikan adalah suatu situasi atau perbuatan dengan situasi atau perbuatan
tersebut akan dicapai tujuan pendidikan. Tindakan pendidik untuk menciptakan
ketenangan agar tercapai tujuan pendidikan tertentu dalam proses pengajaran,
atau melakukan perbuatan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu, umpamanya
nasihat, teguran, hukuman dan teguran agar anak mau berbakti pada orang tua.
Dalam
interaksi pendidikan tidak terlepas metode atau bagaimana pendidikan
dilaksanakan. Terdapat beberapa metode yang dilakukan dalam mendidik yaitu
metode diktatoral metode liberal dan metode demokratis (Suwarno, 1981). Metode
diktatoral bersumber dari teori empiris yang menyatakan bahwa perkembagan manusia
semata-mata ditentukan oleh faktor diluar manusia, sehingga pendidikan bersifat
maha kuasa. Sikap ini menimbulkan sikap
diktator dan otoriter, pendidik yang menentukan segalanya.
Metode
liberal bersumber dari pendirian Naturalisme yang berpendapat bahwa
perkembangan manusia itu sebagian besar ditentukan oleh kekuatan dari dalam
yang secara wajar atau kodrat ada pada diri manusia. Pandangan ini menimbulkan
sikap bahwa pendidik jangan terlalu banyak ikut campur terhadap perkembangan
anak. Biarkanlah anak berkembang sesuai dengan kodratnya secara bebas atau
liberal.
Metode
demokratis bersumber dari teori konvergensi yang mengatakan bahwa perkembangan
manusia itu tergantung pada faktor dari dalam dan dari luar. Di dalam
perkembangan anak kita tidak boleh bersifat menguasai anak, tetapi harus
bersifat membimbing perkembangan anak. Di sini tampak bahwa pendidik dan anak
didik sama-sama penting dalam proses pendidikan untuk mencapai tujuan. Ki
Hadjar Dewantoro melahirkan asas pendidikan yang sesuai dengan metode
demokratis, yaitu Tut Wuri Handayani, ing madyo mangun karsa, ing ngarsa asung
tulada artinya pendidik itu kadang-kadang mengikuti dari belakang,
kadang-kadang harus ditengah-tengah berdampingan dengan anak dan kadang-kadang
harus didepan untuk memberi contoh atau tauladan.
9).Isi Pendidikan
Isi pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan
tujuan pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan perlu disampaikan kepada
peserta didik isi/bahan yang biasanya disebut kurikulum dalam pendidikan formal.
Isi pendidikan berkaitan dengan tujuan pendidikan, dan berkaitan dengan manusia
ideal yang dicita-citakan. Untuk mencapai manusia yang ideal yang berkembang
keseluruhan sosial, susila dan individu sebagai hakikat manusia perlu diisi
dengan bahan pendidikan. Macam-macam isi pendidikan tersebut terdiri dari
pendidikan agama., pendidikan moril, pendidikan estetis, pendidikan sosial,
pendidikan civic, pendidikan intelektual, pendidikan keterampilan dan
pendidikan jasmani.
10).Lingkungan Pendidikan
10).Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan meliputi segala segi
kehidupan atau kebudayaan. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa pendidikan
sebagai gejala kebudayaan, yang tidak membatasi pendidikan pada sekolah saja.
Lingkungan pendidikan dapat dikelompokkan berdasarkan lingkungan kebudayaan
yang terdiri dari lingkungan kurtural ideologis, lingkungan sosial politis,
lingkungan sosial anthropologis, lingkungan sosial ekonomi, dan lingkungan
iklim geographis.
Ditinjau dari hubungan lingkungan dengan manusia dapat dikelompokkan menjadi lingkungan yang tidak dapat diubah dan lingkungan yang dapat diubah atau dipengaruhi, dan lingkungan yang secara sadar dan sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dari sudut tinjauan lain Langeveld lingkungan pendidikan menjadi lingkungan yang bersifat pribadi atau pergaulan dan lingkungan yang bersifat sesuatu yang ada di sekeliling anak.
Ditinjau dari hubungan lingkungan dengan manusia dapat dikelompokkan menjadi lingkungan yang tidak dapat diubah dan lingkungan yang dapat diubah atau dipengaruhi, dan lingkungan yang secara sadar dan sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dari sudut tinjauan lain Langeveld lingkungan pendidikan menjadi lingkungan yang bersifat pribadi atau pergaulan dan lingkungan yang bersifat sesuatu yang ada di sekeliling anak.
Terhadap
ketiga sumber utama input sistem pendidikan tersebut, dilakukan seleksi
berdasarkan tujuan, kebutuhan, efisiensi dan relevansinya bagi pendidikan.
Selain itu, seleksi dilakukan pula atas dasar nilai dan norma tertentu dengan
alasan bahwa pendidikan bersifat normatif. Hasil seleksi tersebut selanjutnya
diambil atau diterima sebagai input sistem pendidikan.
Input sistem pendidikan dibedakan dalam tiga jenis,
yaitu:
1. Input
mentah (raw input), yaitu peserta didik.
2. Input alat
(instrumental input) seperti: kurikulum, pendidik, dll.
3. Input
lingkungan (environmental input) seperti: keadaan cuaca, situasi keamanan masyarakat
dll. yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi proses
pendidikan.
Berbagai jenis input pendidikan
terseleksi sebagaimana dikemukakan di atas, selanjutnya akan membentuk
komponen-komponen pendidikan atau berbagai sub sistem pendidikan. Dalam hal
ini dilakukan diferensiasi sehingga setiap komponen memiliki fungsi-fungsi khusus.
Namun demikian, karena pendidikan adalah suatu sistem, maka pelaksanaan fungsi
setiap komponen pendidikan secara keseluruhan diarahkan demi pencapaian tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan.
C. HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTAR KOMPONEN PENDIDIKAN
Keseluruhan komponen-komponen Pendidikan
diatas merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dalam proses pendidikan
untuk mencapai tujuan pendidikan. Input mentah (raw input), yaitu peserta
didik, Input alat (instrumental input) seperti: kurikulum, pendidik, input
lingkungan (environmental input) seperti: keadaan cuaca, situasi keamanan
masyarakat dll. yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi
proses pendidikan
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah tentang komponen
pendidikan, dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen pendidikan diatas
merupakan saling berkaitan dan merupakan satu kesatuan dalam proses pendidikan
untuk mencapai tujuan pendidikan.
Pengertian Komponen Pendidikan adalah
bagian dari suatu sistem yang memiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya
suatu proses untuk mencapai tujuan sistem. Komponen pendidikan berarti
bagian-bagian dari sistem proses pendidikan, yang menentukan berhasil dan
tidaknya atau ada dan tidaknya proses pendidikan. Bahkan dapat diaktan bahwa
untuk berlangsungnya proses kerja pendidikan diperlukan keberadaan
komponen-komponen tersebut.
Komponen-komponen yang memungkinkan
terjadinya proses pendidikan atau terlaksananya proses mendidik,
komponen-komponen itu yakni:
1). Tujuan Pendidikan,
2) Peserta Didik,
3) Pendidikan,
4).Orang Dewasa
5).Orang Tua
6).Guru/Pendidik di Sekolah
7).Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
8).Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik
9).Isi Pendidikan
1). Tujuan Pendidikan,
2) Peserta Didik,
3) Pendidikan,
4).Orang Dewasa
5).Orang Tua
6).Guru/Pendidik di Sekolah
7).Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
8).Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik
9).Isi Pendidikan
Input
sistem pendidikan dibedakan dalam tiga jenis, yaitu:
1. Input mentah (raw input), yaitu peserta didik.
2.Input alat (instrumental input) seperti: kurikulum, pendidik, dll.
3.Input lingkungan (environmental input) seperti: keadaan cuaca, situasi keamanan masyarakat dll. yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi proses pendidikan.
1. Input mentah (raw input), yaitu peserta didik.
2.Input alat (instrumental input) seperti: kurikulum, pendidik, dll.
3.Input lingkungan (environmental input) seperti: keadaan cuaca, situasi keamanan masyarakat dll. yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi proses pendidikan.
Berbagai
jenis input pendidikan terseleksi sebagaimana dikemukakan di atas, selanjutnya
akan membentuk komponen-komponen pendidikan atau berbagai sub sistem
pendidikan. Dalam hal ini dilakukan diferensiasi sehingga setiap komponen
memiliki fungsi-fungsi khusus. Namun demikian, karena pendidikan adalah suatu
sistem, maka pelaksanaan fungsi setiap komponen pendidikan secara keseluruhan
diarahkan demi pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Bidang pendidikan termasuk rumpun ilmu
perilaku, khususnya suatu rumpun ilmu yang mengkaji aktivitas manusia.
Komponen
adalah bagian dari suatu system yang memiliki peran dalam keseluruhan
berlangsungnya peran dalam proses untuk mencapai tujuan sistem. Komponen
pendidikan berarti bagian-bagian dari sistem pendidikan yang menentukan
berhasil dan tidaknya atau ada dan tidaknya proses pendidikan. Bahkan dapat
dikatakan bahwa untuk berlangsungnya proses kerja pendidikan diperlukan
keberadaan komponen-komponen tersebut.
Ada
Sembilan Komponen yang memungkinkan terjadinya proses atau terlaksananya proses
mendidik yaitu tujuan pendidikan, peserta didik, pendidikan, orang dewasa,
orang tua, guru atau pendidik di sekolah, pemimpin masyarakat dan keagamaan,
interaksi edukatif pendidik dan anak didik, dan isi pendidikan. Kesembilan
komponen tersebut akan dibahas dalam makalah ini.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Pengertian komponen pendidikan ?
2. Komponen pendidikan ?
3. Row input ?
4. Intumen input ?
5. inviromental input ?
6. Hubungan timbal balik antar komponen pendidikan ?
1. Pengertian komponen pendidikan ?
2. Komponen pendidikan ?
3. Row input ?
4. Intumen input ?
5. inviromental input ?
6. Hubungan timbal balik antar komponen pendidikan ?
C. BATASAN MASALAH
Dalam masalah yang kami
tulis ini hanya membahas tentang Komponen Pendidikan dari pengertiannya sampai
hubungan timbal balik antar komponen pendidikan.
D. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan
makalah ini kami tulis karena merupakan tugas dari Dosen mata kuliah Pengantar
Pendidikan dan juga memperdalam pengetahuan kami tentang Komponen Pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KOMPONEN PENDIDIKAN
Komponen adalah bagian dari suatu sistem
yang memiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk
mencapai tujuan sistem. Komponen pendidikan berarti bagian-bagian dari sistem
proses pendidikan, yang menentukan berhasil dan tidaknya atau ada dan tidaknya
proses pendidikan. Bahkan dapat diakatan bahwa untuk berlangsungnya proses
kerja pendidikan diperlukan keberadaan komponen-komponen tersebut.
B. KOMPONEN PENDIDIKAN
B. KOMPONEN PENDIDIKAN
Komponen-komponen yang
memungkinkan terjadinya proses pendidikan atau terlaksananya proses mendidik,
komponen-komponen itu yakni:
1). Tujuan Pendidikan,
2) Peserta Didik,
3) Pendidikan,
4).Orang Dewasa
5).Orang Tua
6).Guru/Pendidik di Sekolah
7).Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
8).Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik
9).Isi Pendidikan
1). Tujuan Pendidikan,
2) Peserta Didik,
3) Pendidikan,
4).Orang Dewasa
5).Orang Tua
6).Guru/Pendidik di Sekolah
7).Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
8).Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik
9).Isi Pendidikan
1).Tujuan Pendidikan
Tingkah laku
manusia, secara sadar maupun tidak sadar tentu berarah pada tujuan. Demikian
juga halnya tingkah laku manusia yang bersifat dan bernilai pendidikan.
Keharusan terdapatnya tujuan pada tindakan pendidikan didasari oleh sifat ilmu
pendidikan yang normatif dan praktis. Sebagai ilmu pengetahuan normatif , ilmu
pendidikan merumuskan kaidah-kaidah; norma-norma dan atau ukuran tingkahlaku
perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia.
Sebagai ilmu pengetahuan praktis, tugas
pendidikan dan atau pendidik maupun guru ialah menanamkam sistem-sistem norma
tingkah-laku perbuatan yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang
dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat (Syaifulah,
1981).
Langeveld mengemukakan bahwa pandangan
hidup manusia menjiwai tingkah laku perbuatan mendidik. Tujuan umum atau tujuan
mutakhir pendidikan tergantung pada nilai-nilai atau pandangan hidup tertentu.
Pandangan hidup yang menjiwai tingkahlaku manusia akan menjiwai tingkahlaku
pendidikan dan sekaligus akan menentukan tujuan pendidikan manusia.
Langeveld mengemukakan jenis-jenis
tujuan pendidikan terdiri dari tujuan umum, tujuan tak lengkap, tujuan
sementara, tujuan kebetulan dan tujuan perantara. Pembagian jenis-jenis tujuan
tersebut merupakan tinjauan dari luas dan sempit tujuan yang ingin dicapai.
Urutan hirarkhis tujuan pendidikan
dapat dilihat dalam kurikulum pendidikan yang terjabar mulai dari :
1) Cita-cita nasional/tujuan nasional (Pembukaan UUD 1945),
2) Tujuan Pembangunan Nasional (dalam Sistem Pendidikan Nasional),
3) Tujuan Institusional (pada tiap tingkat pendidikan/sekolah),
4) Tujuan kurikuler (Pada tiap-tiap bidang studi/mata pelajran atau kuliah), dan
5) Tujuan instruksional yang dibagi menjadi dua yaitu tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.
1) Cita-cita nasional/tujuan nasional (Pembukaan UUD 1945),
2) Tujuan Pembangunan Nasional (dalam Sistem Pendidikan Nasional),
3) Tujuan Institusional (pada tiap tingkat pendidikan/sekolah),
4) Tujuan kurikuler (Pada tiap-tiap bidang studi/mata pelajran atau kuliah), dan
5) Tujuan instruksional yang dibagi menjadi dua yaitu tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.
Denga demikian tampak keterkaitan antara
tujuan instruksional yang dicapai guru dalam pembelajaran dikelas, untuk
mencapai tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari falsafah hidup yang
berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.
2).Peserta Didik
2).Peserta Didik
Perkembangan konsep pendidikan yang tidak
hanya terbatas pada usia sekolah saja memberikan konsekuensi pada pengertian
peserta didik. Kalau dulu orang mengasumsikan peserta didik terdiri dari
anak-anak pada usia sekolah, maka sekarang peserta didik dimungkinkan termasuk
juga didalamnya orang dewasa. Mendasarkan pada pemikiran tersebut di atas maka
pembahasan peserta didik seharusnya bermuara pada dua hal tersebut di atas.
Persoalan yang berhubungan dengan peserta didik
terkait dengan sifat atau sikap anak didik dikemukakan oleh Langeveld sebagai
berikut :
Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, oleh sebab itu anak memiliki sifat kodrat kekanak-kanakan yang berbeda dengan sifat hakikat kedewasaan. Anak memiliki sikap menggantungkan diri, membutuhkan pertolongan dan bimbingan baik jasmaniah maupun rohaniah. Sifat hakikat manusia dalam pendidikan ia mengemukakan anak didik harus diakui sebagai makhluk individu dualitas, sosialitas dan moralitas. Manusia sebagai mahluk yang harus dididik dan mendidik.
Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, oleh sebab itu anak memiliki sifat kodrat kekanak-kanakan yang berbeda dengan sifat hakikat kedewasaan. Anak memiliki sikap menggantungkan diri, membutuhkan pertolongan dan bimbingan baik jasmaniah maupun rohaniah. Sifat hakikat manusia dalam pendidikan ia mengemukakan anak didik harus diakui sebagai makhluk individu dualitas, sosialitas dan moralitas. Manusia sebagai mahluk yang harus dididik dan mendidik.
Sehubungan dengan persoalan anak didik disekolah
Amstrong 1981 mengemukakan beberapa persoalan anak didik yang harus dipertimbangkan
dalam pendidikan. Persoalan tersebut mencakup apakah latar belakang budaya
masyarakat peserta didik ? bagaimanakah tingkat kemampuan anak didik ?
hambatan-hambatan apakah yang dirasakan oleh anak didik disekolah ? dan
bagaimanakah penguasaan bahasa anak di sekolah ? Berdasarkan persoalan tersebut
perlu diciptakan pendidikan yang memperhatikan perbedaan individual, perhatian
khusus pada anak yang memiliki kelainan, dan penanaman sikap dan tangggung
jawab pada anak didik.
3).Pendidik
3).Pendidik
Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah
pendidik. Terdapat beberapa jenis pendidik dalam konsep pendidikan sebagai
gejala kebudayaan, yang tidak terbatas pada pendidikan sekolah saja. Ditinjau dari lembaga pendidikan muncullah beberapa individu yang tergolong
pada pendidik.
Guru sebagai pendidik dalam
lembaga sekolah, orang tua sebagai pendidik dalam lingkungan keluarga, dan
pimpinan masyarakat baik formal maupun informal sebagai pendidik dilingkungan
masyarakat.
Sehubungan dengan hal
tersebut diatas Syaifullah (1982) mendasarkan pada konsep pendidikan sebagai
gejala kebudayaan, yang termasuk kategori pendidik adalah
1) orang dewasa,
2) orang tua,
3) guru/pendidik, dan
4) pemimpin kemasyarakatan, dan pemimpin keagamaan.
4).Orang Dewasa
1) orang dewasa,
2) orang tua,
3) guru/pendidik, dan
4) pemimpin kemasyarakatan, dan pemimpin keagamaan.
4).Orang Dewasa
Orang dewasa sebagai
pendidik dilandasi oleh sifat umum kepribadian orang dewasa, sebagaimana
dikemukakan oleh Syaifullah adalah sebagai berikut
a. manusia
yang memiliki pandangan hidup prinsip hidup yang pasti dan tetap
b. manusia
yang telah memiliki tujuan hidup atau cita-cita hidup tertentu, termasuk
cita-cita untuk mendidik
c. manusia
yang cakap mengambil keputusan batin sendiri atau perbuatannya sendiri dan yang
akan dipertanggungjawabkan sendiri,
d. manusia yang
telah cakap menjadi anggota masyarakat secara konstruktif dan aktif penuh
inisiatif,
e. manusia
yang telah mencapai umur kronologis paling rendah 18 th,
f. manusia
berbudi luhur dan berbadan sehat,
g. manusia yang
berani dan cakap hidup berkeluarga, dan
h. manusia yang
berkepribadian yang utuh dan bulat.
5).Orang Tua
Kedudukan orang tua sebagai
pendidik, merupakan pendidik yang kodrati dalam lingkungan keluarga. Artinya
orang tua sebagai pedidik utama dan yang pertama dan berlandaskan pada hubungan
cinta-kasih bagi keluarga atau anak yang lahir di lingkungan keluarga mereka.
Kedudukan orang tua sebagai pendidik sudah berlangsung lama, bahkan sebelum ada
orang yang memikirkan tentang pendidikan.
Secara umum dapat dikatan bahwa semua orang tua
adalah pendidik, namun tidak semua orang tua mampu melaksanakan pendidikan
dengan baik. Sebagaimana telah dikemukakan dalam bahasan di atas, bahwa
kemampuan untuk menjadi orang tua sama sekali tidak sejajar dengan kemampuan
untuk mendidik.
6).Guru/Pendidik di Sekolah
Guru sebagai pendidik disekolah yang secara lagsung
maupun tidak langsung mendapat tugas dari orang tua atau masyarakat untuk
melaksanakan pendidikan. Karena itu kedudukan guru sebagai pendidik dituntut
memenuhi persyaratan-persyaratan baik persyaratan pribadi maupun persyaratan
jabatan.
Persyaratan pribadi didasarkan pada ketentuan yang
terkait dengan nilai dari tingkah laku yang dianut, kemampuan intelektual,
sikap dan emosional. Persyaratan jabatan (profesi) terkait dengan pengetahuan
yang dimiliki baik yang berhubungan dengan pesan yang ingin disampaikan maupun
cara penyampainannya, dan memiliki filsafat pendidikan yang dapat di
pertanggungjawabkan.
7).Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
7).Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
Selain orang dewasa, orang tua dan guru, pemimpin
masyarakat dan pemimpin keagamaan merupakan pendidik juga. Peran pemimpin
masyarakat menjadi pendidik didasarkan pada aktifitas pemimpin dalam mengadakan
pembinaan atau bimbingan kepada anggota yang dipimpin. Pemimpin keagaam sebagai
pendidik, tampak pada aktifitas pembinaan atau pengembangan sifat kerohanian
manusia, yang didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.
8).Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik
8).Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik
Proses pendidikan bisa terjadi
apabila terdapat interaksi antara komponen-komponen pendidikan. Terutama
interaksi antara pendidik dan anak didik. Interaksi pendidik dengan anak didik
dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Tindakan yang
dilakukan pendidik dalam interaksi tersebut mungkin berupa tindakan berdasarkan
kewibawaan, tindakan berupa alat pendidikan, dan metode pendidikan.
Pendidikan berdasarkan kewibawaan dapat dicontohkan
dalam peristiwa pengajaran dimana seorang guru sedang memberikan pengajaran,
diantara beberapa murid membuat suatu yang menyebabkan terganggunya jalan
pengajaran. Kemudian guru tersebut memberikan peringatan, maka belau ini telah
melaksanakan tindakan berdasarkan kewibawaan. Dengan demikian tindakan
berdasarkan kewibawaan yaitu bersumber dari orang dewasa sebagai pendidik,
untuk mencapai tujuan pendidikan (tujuan kesusilaan, sosial dan lain-lain)
(Syaifullah, 1982).
Alat pendidikan adalah suatu situasi atau perbuatan
dengan situasi atau perbuatan tersebut akan dicapai tujuan pendidikan. Tindakan
pendidik untuk menciptakan ketenangan agar tercapai tujuan pendidikan tertentu
dalam proses pengajaran, atau melakukan perbuatan untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu, umpamanya nasihat, teguran, hukuman dan teguran agar anak
mau berbakti pada orang tua.
Dalam interaksi pendidikan tidak terlepas metode
atau bagaimana pendidikan dilaksanakan. Terdapat beberapa metode yang dilakukan
dalam mendidik yaitu metode diktatoral metode liberal dan metode demokratis
(Suwarno, 1981). Metode diktatoral bersumber dari teori empiris yang menyatakan
bahwa perkembagan manusia semata-mata ditentukan oleh faktor diluar manusia,
sehingga pendidikan bersifat maha kuasa. Sikap ini
menimbulkan sikap diktator dan otoriter, pendidik yang menentukan segalanya.
Metode liberal bersumber dari pendirian Naturalisme
yang berpendapat bahwa perkembangan manusia itu sebagian besar ditentukan oleh
kekuatan dari dalam yang secara wajar atau kodrat ada pada diri manusia.
Pandangan ini menimbulkan sikap bahwa pendidik jangan terlalu banyak ikut campur
terhadap perkembangan anak. Biarkanlah anak berkembang sesuai dengan kodratnya
secara bebas atau liberal.
Metode demokratis bersumber dari teori konvergensi
yang mengatakan bahwa perkembangan manusia itu tergantung pada faktor dari
dalam dan dari luar. Di dalam perkembangan anak kita tidak boleh bersifat
menguasai anak, tetapi harus bersifat membimbing perkembangan anak. Di sini
tampak bahwa pendidik dan anak didik sama-sama penting dalam proses pendidikan
untuk mencapai tujuan. Ki Hadjar Dewantoro melahirkan asas pendidikan yang
sesuai dengan metode demokratis, yaitu Tut Wuri Handayani, ing madyo mangun
karsa, ing ngarsa asung tulada artinya pendidik itu kadang-kadang mengikuti
dari belakang, kadang-kadang harus ditengah-tengah berdampingan dengan anak dan
kadang-kadang harus didepan untuk memberi contoh atau tauladan.
9).Isi
Pendidikan
Isi
pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan tujuan pendidikan. Untuk mencapai
tujuan pendidikan perlu disampaikan kepada peserta didik isi/bahan yang
biasanya disebut kurikulum dalam pendidikan formal. Isi pendidikan berkaitan
dengan tujuan pendidikan, dan berkaitan dengan manusia ideal yang
dicita-citakan. Untuk mencapai manusia yang ideal yang berkembang keseluruhan
sosial, susila dan individu sebagai hakikat manusia perlu diisi dengan bahan
pendidikan. Macam-macam isi pendidikan tersebut terdiri dari pendidikan agama.,
pendidikan moril, pendidikan estetis, pendidikan sosial, pendidikan civic,
pendidikan intelektual, pendidikan keterampilandanpendidikanjasmani.
10).Lingkungan Pendidikan
10).Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan meliputi segala segi kehidupan
atau kebudayaan. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa pendidikan sebagai
gejala kebudayaan, yang tidak membatasi pendidikan pada sekolah saja.
Lingkungan pendidikan dapat dikelompokkan berdasarkan lingkungan kebudayaan
yang terdiri dari lingkungan kurtural ideologis, lingkungan sosial politis,
lingkungan sosial anthropologis, lingkungan sosial ekonomi, dan lingkungan
iklim geographis.
Ditinjau dari hubungan lingkungan dengan manusia dapat dikelompokkan menjadi lingkungan yang tidak dapat diubah dan lingkungan yang dapat diubah atau dipengaruhi, dan lingkungan yang secara sadar dan sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dari sudut tinjauan lain Langeveld lingkungan pendidikan menjadi lingkungan yang bersifat pribadi atau pergaulan dan lingkungan yang bersifat sesuatu yang ada di sekeliling anak.
Ditinjau dari hubungan lingkungan dengan manusia dapat dikelompokkan menjadi lingkungan yang tidak dapat diubah dan lingkungan yang dapat diubah atau dipengaruhi, dan lingkungan yang secara sadar dan sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dari sudut tinjauan lain Langeveld lingkungan pendidikan menjadi lingkungan yang bersifat pribadi atau pergaulan dan lingkungan yang bersifat sesuatu yang ada di sekeliling anak.
Terhadap ketiga sumber utama input sistem pendidikan
tersebut, dilakukan seleksi berdasarkan tujuan, kebutuhan, efisiensi dan
relevansinya bagi pendidikan. Selain itu, seleksi dilakukan pula atas dasar
nilai dan norma tertentu dengan alasan bahwa pendidikan bersifat normatif.
Hasil seleksi tersebut selanjutnya diambil atau diterima sebagai input sistem
pendidikan.
Input
sistem pendidikan dibedakan dalam tiga jenis, yaitu:
1.
Input
mentah (raw input), yaitu peserta didik.
2. Input alat
(instrumental input) seperti: kurikulum, pendidik, dll.
3. Input
lingkungan (environmental input) seperti: keadaan cuaca, situasi keamanan
masyarakat dll. yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi
proses pendidikan.
Berbagai jenis input pendidikan
terseleksi sebagaimana dikemukakan di atas, selanjutnya akan membentuk
komponen-komponen pendidikan atau berbagai sub sistem pendidikan. Dalam hal
ini dilakukan diferensiasi sehingga setiap komponen memiliki fungsi-fungsi
khusus. Namun demikian, karena pendidikan adalah suatu sistem, maka pelaksanaan
fungsi setiap komponen pendidikan secara keseluruhan diarahkan demi pencapaian
tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
C. HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTAR KOMPONEN PENDIDIKAN
C. HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTAR KOMPONEN PENDIDIKAN
Keseluruhan komponen-komponen Pendidikan diatas
merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dalam proses pendidikan untuk
mencapai tujuan pendidikan. Input mentah (raw input), yaitu peserta didik,
Input alat (instrumental input) seperti: kurikulum, pendidik, input lingkungan
(environmental input) seperti: keadaan cuaca, situasi keamanan masyarakat dll.
yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi proses pendidikan
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah tentang komponen pendidikan,
dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen pendidikan diatas merupakan saling
berkaitan dan merupakan satu kesatuan dalam proses pendidikan untuk mencapai
tujuan pendidikan.
Pengertian Komponen Pendidikan adalah bagian dari
suatu sistem yang memiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses
untuk mencapai tujuan sistem. Komponen pendidikan berarti bagian-bagian dari
sistem proses pendidikan, yang menentukan berhasil dan tidaknya atau ada dan
tidaknya proses pendidikan. Bahkan dapat diaktan bahwa untuk berlangsungnya
proses kerja pendidikan diperlukan keberadaan komponen-komponen tersebut.
Komponen-komponen
yang memungkinkan terjadinya proses pendidikan atau terlaksananya proses
mendidik, komponen-komponen itu yakni:
1). Tujuan Pendidikan,
2) Peserta Didik,
3) Pendidikan,
4).Orang Dewasa
5).Orang Tua
6).Guru/Pendidik di Sekolah
7).Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
8).Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik
9).Isi Pendidikan
1). Tujuan Pendidikan,
2) Peserta Didik,
3) Pendidikan,
4).Orang Dewasa
5).Orang Tua
6).Guru/Pendidik di Sekolah
7).Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan
8).Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik
9).Isi Pendidikan
Input
sistem pendidikan dibedakan dalam tiga jenis, yaitu:
1. Input mentah (raw input), yaitu peserta didik.
2.Input alat (instrumental input) seperti: kurikulum, pendidik, dll.
3.Input lingkungan (environmental input) seperti: keadaan cuaca, situasi keamanan masyarakat dll. yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi proses pendidikan.
1. Input mentah (raw input), yaitu peserta didik.
2.Input alat (instrumental input) seperti: kurikulum, pendidik, dll.
3.Input lingkungan (environmental input) seperti: keadaan cuaca, situasi keamanan masyarakat dll. yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi proses pendidikan.
Berbagai jenis input pendidikan terseleksi
sebagaimana dikemukakan di atas, selanjutnya akan membentuk komponen-komponen
pendidikan atau berbagai sub sistem pendidikan. Dalam hal ini dilakukan
diferensiasi sehingga setiap komponen memiliki fungsi-fungsi khusus. Namun
demikian, karena pendidikan adalah suatu sistem, maka pelaksanaan fungsi setiap
komponen pendidikan secara keseluruhan diarahkan demi pencapaian tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan.
No comments:
Post a Comment